Find us on Google+ Ekologi Nusantara: " Anoa Si Penjelajah Sejati "

Jumat, 14 September 2012

" Anoa Si Penjelajah Sejati "

Di Spanyol ada banteng kalap mengejar matador, di Sulawesi ada anoa yang tak kalah garang. Kecil-kecil cabe rawit. Begitu julukan untuk kerbau cebol itu. Enggak main-main, banyak korban berjatuhan dalam duel melawan anoa. Sampai-sampai keperkasaan anoa dijadikan simbol keperkasaan bagi masyarakat Sulawesi. Sayang sekali, salah satu ungulata (binatang berkuku) primitif  khas Sulawesi ini, kini keberadaannya kian terancam punah.


Mitos keganasan anoa bukanlah cerita isapan jempol belaka. Banyak orang telah menjadi korbanya, baik yang terluka maupun terbunuh oleh tanduk runcingnya. Masyarakat di tepian hutan sering terpaksa berlari untuk menghindari satwa ini. Tak heran karena mereka menganggapnya sebagai binatang “buas” yang patut dihindari.
Sebenarnya anoa bukan termasuk binatang buas seperti halnya harimau yang mencabik-cabik tubuh korban dengan taringnya. Anoa tidak bertaring karena termasuk kelompok satwa herbivora. Tanduk merupakan senjata utamanya untuk membela diri saat terdesak. Terlebih jika ada orang yang mencoba mengusik kehidupannya,anoa dapat menjadi sangat agresif menyerang lawannya hingga mati.

Sapi atau kerbau
Anoa termasuk kerabat ungulata primitif yang bertahan hidup hingga kini. Satwa ini bermigrasi dari daratan asia lewat daratan Filipina pada masa es belum mencair. Pakar paleontologi yang menemukan fosilnya di Gua Cani, Sulawesi Selatan, menduga bahwa anoa telah menempati Sulawesi sejak zaman Pleistosen.
Sampai saat ini ahli taksonomi masih dibuat bingung tentang penamaannya. Sebagian ahli mengelompokkan anoa sebagai kerabat dekat kerbau dengan genus Bubalus, dan sebagian lagi menempatkan anoa kedalam genus tersendiri, yaitu Anoa. Satu-satunya kerabat dekat yang mempunyai banyak kesamaan adalah kerbau liar filipina, yaitu tamaraw (Bubalus mindorensis).
Masyarakat lokal menyebut anoa sebagai sapi utan karena mirip dengan sapi. Perwakannya yang kerdil (tinggi sekitar pinggang orang dewasa), membuat anoa tampak gempal dan kekar. Ukuran badan kerdil ini justru menjadikannya lebih gesit. Warna kulit anoa cenderung gelap – mulai dari hitam, hitam kecoklatan, coklat, hingga coklat keemasan – menjadi modal kamuflase di hutan tropis.

Tanduknya yang tajam seperti tombak membuatnya menjadi senjata pertahanan diri yang efektif. Anoa termasuk kelompok ungulata bertanduk palsu, dimana tanduknya hanya berupa lapisan keratin yang melapisi tanduk sejati. Pada anoa dewasa tanduk akan tumbuh lurus ke arah belakang kepala hingga sekitar 30 cm. Untuk mengetahui umur satwa ini dapat dikenali dengan tanda munculnya alur-alur berbentuk cincin di pangkal tanduk setiap pertambahan umur.
Di Sulawesi, secara umum dikenal dua jenis anoa, yaitu anoa daratan rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa daratan tinggi (Bubalus quarlesi). Ciri utama anoa daratan rendah yaitu bentuk tanduk pipih dengan alr cincin. Ukuran tubuhnya agak besar (tinggi 80 – 90 cm). Beda dengan anoa daratan tinggi, yang tanduk bulat lagi pula runcing . ukuran tubuhnya pun kecil (tinggi 60 – 70 cm). Namun, anoa daratan rendah lebih mudah di temukan dari pada anoa daratan tinggi.

Anoa Penjelajah Sejati
Perilaku anoa yang sangat liar  dan agresif  menjadi hambatan dalam usaha penangkarannya di luar habitatnya. Di beberapa kebun binatang di Eropa dilaporkan, meski telah melewati beberapa generasi, perilaku liar anoa tak kunjung hilang. Satwa ungulata lainya yang ditempatkan dalam satu kandang sering menjadi korban. Biasanya, agresifitasnya timbul ketika merebutkan makanan. Menurut Abdul Haris Mustari, pakar ekologi anoa dari fakultas kehutanan IPB, biasanya anoa juga menjadi agresif pada saat terluka atau kalah melindungi anaknya.
Seorang keeper satwa di Taman Safari Cisarua (Bogor) sempat merasakan kebinalan anoa di kandang penangkaran. Tanpa ada tanda-tanda, seekor anoa secara tiba-tiba menghujamkan tanduk sampai menembus paha sang pawangnya. Bahkan sempat terjadi pengalaman unik. Ada anoa lain yang mencoba masuk kandang singa afrika. Ia yang justru mengejar singa, kemudian dengan selamat keluar dari kandang itu hanya dengan sedikit luka-luka kecil.
Anoa dikenal sebagai penjelajah sejati. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, satwa ini sanggup menjelajahi daerah seluas 700 ha. Tak heran kalau di Sulawesi dapat di temukan anoa pada berbagai tipe habitat, mulai dari pantai, daratan rendah, perbukitan, hingga daerah pegunungan. Daerah bergelombang dan berbukit sangat disukai satwa dengan jelajah naik-turun. Satu lagi kelebihan anoa yaitu kepandaiannya berenang. Makanya para nelayan di Teluk Kolono, Sulawesi Tenggara sering menjumpai anoa berenang menyeberangi laut untuk berpindah dari pulau ke daratan atau sebaliknya.
Sebagaimana keluarga kerbau lain, anoa sangat suka berendam dalam air dan berkubang di lumpur. Selama musim musim kering mereka berkubang dalam lumpur sambil menggosok-gosokan tubuhnya yang ditempeli banyak kutu. Dalam hutan jejak anoa mudah ditemukan di sepanjang daerah aliran sungai. Maklum, hidup mereka sangat bergantung pada ketersediaan air.
Untuk mencukupi kebutuhan mineralnya, anoa suka menjilat-jilat tanah yang mengandung unsur mineral. Bagi anoa yang bertinggal di tepian pantai, kebutuhan mineral dapat di cukupi dengan minum air laut.  Rerumputan, dedaunan, dan paku-pakuan termasuk menu favorit anoa. Selain itu, buah-buahan  masak yang jatuh dari lantai hutan di santapnya pula. Di pegunungan Nikalalaki sering di temukan anoa memakan lumut i bebetuan.
Dalam habitat asli anoa dikenal sangat pemalu. Satwa ini cenderung menyukai tipe habitat yang relatif rapat dan tertutup di hutan primer yang aman dari gangguan manusia. Masyarakat yang berharap bisa melihat satwa ini sering hanya bisa gigit jari. Soalnya, lewat hembusan angin, anoa sanggup mencium kehadiran manusia dari jarak jauh. Perkembangan organ pembauan dan pendengaran memberikan kepekaan bagi anoa. Para ilmuwan yang tinggal berhari-hari dalam hutan pun hanya bisa mempelajari kehidupan satwa ini berdasarkan jejak kaki dan kotoran.

Anoa dan Legenda Sangkuriang
Berbeda dari keluarga Bovidae lainnya yang biasa hidup dalam kelompok besar, anoa justru sering menyendiri. Kalau kerbau rawa hidup berkelompok sampai puluhan ekor, sebaliknya anoa hidup dalam keluarga kecil yaitu cuma 2 – 3 ekor yang terdiri atas pasangan jantan dan betina dewasa, serta anak. Perilaku soliter anoa mungkin berkaitan erat dengan karakteristik habitat yang rapat dengan tumbuhan bawah seperti semak dan rotan yang memenuhi lantai hutan.
Anoa tinggal berpasangan dengan betinanya hanya selama musim kawin. Begitu musim kawin berlalu, anoa jantan meninggalkan sang kekasih dan anaknya. Demikianlah, dengan penuh kasih sayang sang induk membesarkan anaknya sendidrian. Demi melindungi anak, sang induk sangat agresif, bahkan terkadang anoa membunuh orang yang dianggap mengganggu anaknya.
Dalam masyarakat di tepian hutan muncul cerita legenda yang dipercayai, mirip dengan legenda sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya sendiri, Nyai Sumbi. Bahkan seekor induk betina akan terus menjaga anaknya yang jantan sampai dewasa untuk kelak menggantikan peran ayahnya. Sebaliknya, jika anak yang lahir betina, maka akan cepat-cepat disapih.
 Sayangnya, selama 30 tahun terakhir kehidupan anoa samakin terancam akibat perburuan liar dan perusakan habitat. Dagingnya, konon, lebih enak dari pada daging sapi atau kerbau.  Tak heran bila perburuan satwa ini semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan sejumlah hutan di Sulawesi satwa ini telah mengalami kepunahan lokal. Jika dalam waktu 10 tahun mendatang ancaman pemburu liar tidak juga berkurang, diperkirakan satwa ini akan mengalami kepunahan total dari habitat aslinya di Sulawesi.
Dalam upaya pelestarian anoa Pemerintah Sulawesi Tenggara pun telah menjadikannya sebagai satwa maskot daerah. 

Meski demuikian usaha ini belum dirasakan cukup jika dibandingkan dengan besarnya ancaman yang datang. Sementara pihak kebun binatang di seluruh dunia telah melakukan upaya untuk menjadikan anoa sebagai satwa yang berpotensi untuk diternakkan lewat penangkaran.

.{tulisan ini berdasarkan hasil penelitian di hutan pinogu,propinsi Gorontalo, dan Taman safari Bogor,Jawa barat, Tahun 2000 silam dan telah dimuat di majalah Intisari tahun 2002 edisi bulan agustus}.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar